Tempatnya Belajar dan Berbagi

Written By Unknown on Minggu, 24 November 2013 | Minggu, November 24, 2013

Tempatnya Belajar dan Berbagi


Sosok Tuhan Yang Menakutkan

Posted: 22 Nov 2013 04:03 PM PST

Sejak kecil sebagian besar dari kita telah memiliki kepercayaan keagamaan yang kuat dengan hanya sedikit keimanan kepada Tuhan. Kenapa dikatakan demikian? Sebab ada perbedaan antara kepercayaan kepada seperangkat dalil, dengan keimanan yang memungkinkan kita untuk menaruh keyakinan kepada kebenaran dalil-dalil tersebut. Keyakinan kita tentang keagamaan yang terkesan pada masa kanak-kanak, lebih banyak merupakan kredo yang menakutkan, sampai terbawa pada masa dewasa. Cerita neraka dengan segenap malaikat penjaganya yang kejam mampu membangkitkan realita kejiwaan yang menakutkan dari sosok Tuhan.

Di sisi lain, Tuhan merupakan figur kabur yang lebih didefinisikan melalui abstraksi intelektual daripada imajinasi. Tuhan sebagai figur di belakang layar (hijab) yang tidak berbuat banyak, karena segala pekerjaan pengaturan alam semesta telah diwakilkan kepada para pembantunya (malaikat). Ia begitu agung dan suci, sehingga cukup bagi-Nya duduk santai di singgasana-Nya, seperti imajinasi tentang raja-raja pada gambaran manusia. Akibatnya, banyak orang yang terjebak kepada imajinasi ini, sebagai batasan manusia untuk tidak membicarakan Tuhan. Dan bagi manusia biasa tidak layak untuk menyentuh wilayah ketuhanan, kecuali melalui perantara nabi, malaikat, para wali, sebab tidak semestinya ketinggian dan keagungan Tuhan yang Suci, didatangi oleh manusia yang penuh kotoran dan dosa.

Agama yang kita tangkap selama ini adalah sebagai seperangkat aturan dan kepercayaan yang dibeban secara eksternal. Ia bersifat �top down� yang diberikan kepada kita untuk melaksanakan aturan-aturan tersebut atau ditanamkan oleh kiai, guru dan tradisi lingkungan kita. Hal ini sangat berbeda jika keagamaan yang timbul berasal dari jiwa, yang merupakan fitrah internal bawaan otak dan jiwa manusia, karena keagamaan yang berasal dari potensi fitrah akan sesuai dengan ajaran agama yang benar dan universal secara utuh.

Sumber : Berguru Kepada Tuhan oleh Abu Sangkan

Yang Benar Adalah.....................

Posted: 22 Nov 2013 04:02 PM PST

Mula-mula aku mengira bahwa seorang guru pasti benar dalam segala hal
Lalu aku membayangkan bahwa guruku salah dalam banyak hal
Lalu aku menyadari apa yang benar dan apa yang salah.
Yang salah akan tetap ada di dalam kedua keadaan itu.
Yang benar adalah memberitahukan ini kepada setiap orang.

Kenapa Kita Harus Meyakini Tuhan?

Posted: 22 Nov 2013 04:02 PM PST

Orang-orang menuntut sejumlah bukti-bukti ajaib sebelum mereka meyakini kebenaran Tuhan dan Rasul-Nya. tetapi, bukti apa lagi yang mereka perlukan ketika mereka telah memiliki keajaiban seluruh jagad raya yang telah berjalan selama miliaran tahun dalam skala yang sangat luas? Jika seseorang yang ragu tidak siap untuk menerima keajaiban yang hebat semacam itu, maka bagaimana ia akan yakin ketika ia melihat kejaiban-keajaiban yang lebih kecil?


Pada kenyataannya, manusia telah memiliki segala sesuatunya agar ia dapat meyakini Tuhan, dan kemudian menempatkan dirinya sebagai hamba-Nya. Jika dibalik ini semua, ia masih tidak meyakini Tuhan dan tidak dapat mengakui kekuasaan dan kesempurnaan Tuhan, maka yang patut untuk disalahkan adalah dirinya sendiri, bukan orang lain.

Seseorang yang telah menmukan Tuhannya, maka ia telah menemukan segala sesuatu. setelah menemukan Tuhan, maka tidak ada lagi penemuan yang harus ia peroleh. Karenanya, ketika seseorang telah menemukan Tuhan, maka seluruh niatnya terpusatkan kepada-Nya. Baginya, Tuhan menjadi sebuah harta karun yang telah ia temukan dan kepada-Nya ia meminta pertolongan bagi seluruh kebutuhan duniawi dan ukhrawinya.

Anggaplah seseorang memakan sebuah apel, tetapi ia tidak merasakan dan mendapatkan apa-apa darinya. Ia mungkin dapat dikatakan tidak memakan apel itu sama sekali, tetapi sesuatu yang menyerupai apel. Demikian juga dengan penemuan seseorang terhadap Tuhan. Seseorang yang benar-benar telah menemukan Tuhan, maka dengan penuh perasaan bahagia ia akan menikmati esensi dari pengalaman.

Siapa saja yang mengklaim telah menemukan Tuhan tanpa merasakan perasaan bahagia ini, maka dapat dipastikan bahwa ia tidak mencapai penemuan semacam itu. Ia hanya menemukan suatu secara keliru dianggapnya sebagai Tuhan. Ia diibaratkan seseorang yang memakan sebuah apel palsu dan tidak memperoleh kepuasaan apapun darinya.

Ketika kita memakan buah-buahan yang lezat, maka hal ini memberikan kita sebuah perasaan bahagia yang sangat. Ketika kita mendengarkan musik yang indah, kita merasa senang mendengarnya. Ketika seorang anak laki-laki tampan dilahirkan oleh suami-isteri, maka mereka memperoleh kebahagiaan yang tak terkira. Lantas, bagaimana dengan pengalaman kita akan Tuhan, yang menjadi sumber dari segala keindahan, kesenangan dan keagungan? Ketika menemukan-Nya, dapatkah seseorang tidak mengalami perubahan sama sekali? Hal ini merupakan sesuatu yang hampir tidak bisa dibayangkan, sebab pengalaman agung semacam itu tidak dapat diragukan lagi pastilah meninggalkan kesan pada seseorang.

Tuhan SENDIRI adalah zat yang paling gemerlap di antara segala sesuatu yang ada. Dia adalah cahaya langit dan bumi, memancarkan cahaya-Nya terhadap orang-orang yang telah menemukan-Nya. Dia adalah gudang harta karun dari segala kebijaksanaan. Dia adalah gudang terbesar dari segala kekuatannya. Para penemu-Nya menjadi begitu kuat dengan kekuatan-Nya dan menjadi begitu tercerahkan dengan kebijaksanaan-Nya sehingga tidak ada banjir atau angin topan apapun  mereka. Sekali menemukan-Nya, mereka tidak dapat mengerjakan apa-apa kecuali berubah menjadi manusia-manusia yang agung.

Masa Bodoh Dengan Hari Esok

Posted: 22 Nov 2013 04:03 PM PST

Jika orang-orang ditanyakan apakah topik yang paling paling relevan bagi umat manusia saat ini, maka mereka akan memberikan jawaban yang bermacam-macam. Sebagian mereka akan menjawab menyebarkan senjata-senjata nuklir, sebagian akan menjawab angka kelahiran yang terlalu tinggi di seluruh dunia. Sementara sebagian yang lain mungkin akan menjawab bahwa topik yang paling penting adalah peningkatan kekayaan dan keadilan bagi semua orang.

Pendapat-pendapat yang sangat beragam ini menunjukkan bahwa orang-orang pada umumnya tidak mengenali dengan tepat siapa diri mereka sebenarnya. Jika sebaliknya, maka mereka akan berpendapat bahwa hal yang paling berpengaruh bagi manusia adalah pengabdiannya terhadap karakteristiknya sendiri, dan penolakannya untuk menerima kenyataan bahwa suatu hari ia pasti akan mati, dan yang lebih menakutkan lagi, akan dipanggil di hadapan Penciptanya untuk dimintai pertanggungjawaban.

Seandainya kita engakui realitas ini semata, maka kita tidak akan begitu memikirkan dunia saat ini dan akan mebih memikirkan kehidupan yang akan datang. Saat ini, kebanyakan orang sangat yakin akan adanya Tuhan dan kehidupan yang akan datang. Seolah-olah mereka sama sekali tidak mengingkari kedua hal itu, namun tindakan-tindakan mereka tidak sesuai dengan keyakinan-keyakinan mereka. Pada kenyataannya, setiap orang memikirkan bagaimana untuk dapat bertahan hidup.

Jika anda berada di sebuah pusat perbelanjaan pada keramaian malam hari, maka anda akan segera menyadari apa yang sedang membuat orang-orang sibuk. Mereka sibuk memuaskan hasrat-hasrat mereka sendiri. Seseorang hanya perlu melihat mereka dan mendengarkan mereka, untuk memahami jual beli, mendapatkan barang-barang yang diinginkan atau uang adalah kesenangan hidup yang paling besar bagi mereka. Kebahagiaan atau kesedihan yang kita lihat di wajah mereka terkait langsung dengan keberhasilan atau kegagalan dalam memenuhi hasrat-hasrat material.

Pada kenyataannya, setiap orang menginginkan kehidupan di dunia. Hanya sedikit orang yang menginginkan kehidupan yang akan datang. Bahkan, tidak seorang pun yang memikirkannya. Keadaan itu tidak hanya dijumpai di kota-kota besar, tetapi juga di pelosok-pelosok desa. Dimana sja, orang-orang memiliki obsesi-obsesi yang sama. Laki-laki dan perempuan, kaya dan miskin, muda dan tua, orang kota dan orang desa, orang beragama atau atheist, semuanya memiliki tujuan yang sama. Mereka semua menyia-nyiakan waktu berharga mereka dan menyibukkan diri demi memperoleh materi. Betapa sebuah obsesi yang sangat besar sekali! Bahkan keyakinan dan kesadaran dikorbankan demi pencapaian duniawi. Apa saja pantas untuk dikorbankan.

Akhirnya, tibalah masa ketika anggota tubuhnya tidak lagi berfungsi dan ia tidak bisa lagi bekerja. Pada masa itulah mereka kemudian baru menyadari bahaya yang menimpanya, ia tidak memiliki makanan, pakaian atau tempat tinggal, dan ia tidak lagi dapat menghidupi dirinya sendiri. Betpa sering kita menyaksikan orang-orang yang berpakaian compang-camping, bersandar di sejumlah tembok-tembok dengan anjing-anjing yang menggonggong di sekeliling mereka dan anak-anak melempar mereka dengan batu.

Kita telah sering menyaksikan pemandangan yang menyedihkan semacam itu, namun tidak merasa tergerak, dengan apa yang kita saksikan, untuk perlu melakukan tindakan preventif apapun. Tidak seorang pun dari kita yang benar-benar menyadari bahwa diri kita sendiri menuju pada sebuah akhir yang seperti itu, karena kita terlalu asyik dengan kehidupan saat ini. Masa bodoh dengan hari esok!

Ketika pada masa peperangan, sirine serangan udara menandakan akan datangnya kuadron pembom musuh yang hendak membombardir kita, maka kita merasa ketakutan dan setiap orang segera berlindung di kamp-kamp anti serangan udara. Dalam sesaat jalan-jalan menjadi sepi. Seseorang yang tidak mempedulikan peringatan sirine dipandang sebagai orang yang bodoh, jika tidak gila.

Namun, apa yang terjadi ketika para pemeluk agama mendengarkan peringatan Tuhan? �Hai manusia! Menyembahlah kepada-Ku. Tunaikan kewajibanmu pada  yang lainnya dan hiduplah sesuai dengan kehendak-Ku. Aku akan menyinksa mereka yang melalaikannya dengan siksaan yang tidak terbayangkan. Mereka aka ponyang-panting dalam kesakitan yang tidak dapat mereka hindari.�

Tetapi, apa yang yang terjadi? Setiap orang telah mendengar peringatan ini, tetapi tidak seorang pun yang mengakui kekuatannya, otoritasnya, kebenaran essensinya. Pada umumnya, mereka menganggapnya sebagai persoalanyang tidak penting, persoalan yang harus dipikirkan nanti atau mungkin tidak perlu untuk dipikirkan sama sekali.

1 komentar:

pangeran sehat mengatakan...

terimakasih beritanya sob, , ,salam newbi dari kota ponorogo
kunjungi juga di www.tipssehatkantubuh.com
kunjungi juga grub komunitas blogger ponorogo di
https://www.facebook.com/groups/Komunitasbloggerponorogo/?fref=ts

Posting Komentar